Home Terkini Depok Menuju Zero Stunting
Depok Menuju Zero Stunting

Depok Menuju Zero Stunting

5
0

METRO DEPOK – Wali Kota Depok Mohammad Idris mengajak seluruh elemen masyarakat agar turut serta berkontribusi dalam mendukung terwujudnya Kota Depok Zero Stunting.

“Upaya penurunan stunting adalah tanggung jawab bersama. Karena itu, perlu mendapat dukungan dari seluruh elemen, baik perangkat daerah, instansi vertikal, TP-PKK, maupun masyarakat, untuk menjalankan program dan mengoptimalkan perannya demi mencegah stunting,” tutur Idris beberapa waktu lalu.

Orang nomor satu di Kota Depok ini mengutarakan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan kesehatan dan gizi yang berdampak pada stunting. Yaitu lingkungan yang meliputi sanitasi dan air bersih, pola asuh, pola makan, serta penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Ada juga, katanya lagi, faktor genetik, minimnya fasilitas kesehatan, hingga pemahaman yang kurang dari orang tua terkait pentingnya gizi yang baik dalam tumbuh kembang anak.

“Jika dalam suatu wilayah terdapat masalah yang berkaitan dengan faktor tersebut, dapat segera menghubungi perangkat daerah terkait. Nantinya akan ditindaklanjuti sesuai dengan program yang sudah ada, demi mendukung pencegahan dan penanganan stunting,” katanya.

Ketua TP PKK Kota Depok, Elly Farida mengutarakan pihaknya siap berkolaborasi mendukung dan menjalankan program Depok menuju zero stunting atau bebas gagal tumbuh pada anak.

“Setidaknya tiga peran yang dapat dilakukan, yakni pembinaan kemampuan kader Posyandu Bina Keluarga Balita Holistik-Integratif (BKB HI), pembinaan kegiatan Posyandu terintegrasi, dan penggerakan partisipasi masyarakat,” ujar Bunda Elly, sapaan akrabnya.

Lebih lanjut Bunda Elly menjelaskan, ketua TP-PKK tingkat kelurahan juga diharapkan dapat berperan menjadi duta stunting. Duta stunting ini bertugasmelaksanakan sepuluh program PKK yang mengacu pada intervensi spesifik dan sensitif.

“Duta stunting juga diharapkan mampu melakukan sejumlah langkah strategis, seperti membentuk tim tingkat kelurahan yang ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Lurah, melakukan sosialisasi tentang stunting kepada seluruh tim. Berikutnya, melakukan optimalisasi kegiatan spesifik di Posyandu di masa pandemi Covid-19, khususnya imunisasi, pendampingan pemberian Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan pemamtauan status gizi pada kelompok 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK,” paparnya..

Sementara, Kepala Dinkes Kota Depok, Novarita mengatakan upaya pencegahan stunting dapat mulai dilakukan dengan memastikan kesehatan yang baik dan gizi yang cukup pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

“40 Persen kontribusi berasal dari faktor lingkungan berupa sanitasi lingkungan yang baik, serta ketersediaan air bersih. Kemudian, 30 persen dari faktor perilaku yang di dalamnya terdapat pola asuh, pola makan dan pola hidup. Selanjutnya, 20 persen dari faktor pelayanan kesehatan dan 10 persen dari faktor genetik,” jelasnya.

Untuk itu, sambung Novarita, upaya penurunan stunting dilakukan melalui dua intervensi. Pertama, intervensi gizi spesifik untuk mengatasi penyebab langsung. Kedua, intervensi gizi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung.

“Upaya penurunan stunting akan lebih efektif jika kedua intervensi dilakukan secara terintegrasi karena dapat lebih memperkuat efektivitas penurunan stunting. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi,” tandasnya.

Tercatat angka gizi buruk dari 2016 sebanyak 85 anak, 2017 sebanyak 83 anak, 2018 sebanyak 76 anak, 2019 sebanyak 64 anak, dan 2020 sebanyak 72 anak.

Rien mengungkapkan, untuk anak stunting di Kota Depok pada 2016 sebanyak 8.717 anak, 2017 sebanyak 7.743 anak, 2018 sebanyak 6.751 anak. Namun, pada 2019 terjadi peningkatan atau penambahan sebanyak 5.241 anak. Tetapi pada 2020 terjadi penurunan kembali dan tercatat sebanyak 5718 anak atau 5,3 persen.

5