Home Hot News Hasyim Muzadi Larang Pesantren Gabung ke YPPI
Hasyim Muzadi Larang Pesantren Gabung ke YPPI

Hasyim Muzadi Larang Pesantren Gabung ke YPPI

31
0

METRO DEPOK- Mantan Ketua Imum PBNU KH Hasyim Muzadi mengingatkan agar para kiai pengasuh pondok pesantren tidak ikut bergabung dengan Yayasan Peduli Pesantren Indonesia (YPPI) yang didirikan oleh Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo.

“Untuk YPP sebaiknya orang-orang pesantren gak usah ikut-ikut,” demikian pesan pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang dan Depok, kemarin.

Anggota Wantipres menyampaikan hal itu ketika diminta tanggapan tentang berdirinya yayasan oleh bos MNC group beberapa waktu lalu. Seperti diketahui, pengusaha kondang Hary Tanoesoedibjo meresmikan berdirinya YPPI. Nantinya, yayasan itu akan mendukung serta membantu seluruh pembangunan sarana dan prasarana pesantren yang ada di Indonesia. Bos sejumlah media itu mengaku memperoleh gagasan peduli pesantren setelah mengunjungi sejumlah daerah di Indonesia. Ketua umum Partai Perindo itu mengaku prihatin dengan kondisi mayoritas pesantren yang tidak didukung sumber daya memadai.

Ketua dewan pembina YPP adalah Said Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU, red) dengan anggota Mahfud MD. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah duduk di dewan pengawas. Belakangan Gus Sholah menyatakan dirinya tidak bersedia bergabung dalam kepengurusan YPP.

Hasyim Muzadi mengingatkan peran pondok pesantren itu menjadi benteng paham ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) yang mampu melidungi bangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Harapan dia kepada pesantren untuk menjadi benteng Aswaja itu perlu dikuatkan menyusul upaya tarik menarik kepentingan politik praktis. Selain itu juga munculnya berbagai paham keagamaan trans nasional yang masuk.

Sejumlah ulama pesantren se-Jatim juga mendesak PBNU untuk melepaskan diri dari keterlibatan dalam Yayasan Peduli Pesantren Indonesia (YPPI), karena masyarakat NU di tingkat akar rumput justru menginginkan kemandirian ekonomi.

Sementara itu, Hary Tanoesoedibjo berharap peluncuran Yayasan Peduli Pesantren (YPP) dapat membantu dalam mengembangkan pesantren-pesantren kecil yang konsisten mendidik generasi muda Indonesia.

“Pesantren-pesantren di daerah itu kecil-kecil sangat memprihatinkan, jadi mereka kurang diperhatikan. Padahal kan kita tahu bahwa pesantren itukan sumber ilmu,” kata Hary Tanoe
Ketua Umum Partai Perindo itu melanjutkan, apabila pesantren sebagai lembaga pendidikan sudah berkembang dan bahkan bisa mandiri maka secara otomatis dapat membantu mempercepat Indonesia menjadi negara yang maju.

“Kalau bisa begitu kan kita bisa membangun Indonesia yang maju,” tutupnya.

Sedangkan Mahfud MD yang didapuk menjadi salah satu anggota Dewan Pembina YPPI bukannya memilih menjelaskan dengan lembut, Mahfud terkesan emosional terkait keterlibatannya didalam YPPI..
“Ada yang menanyakan, betulkah saya ikut menjadi Pengurus Yayasan Peduli Pesantren Indonesia (YPPI) yang dipimpin Pak HT. Saya pastikan bahwa betul saya ikut jadi pengurus yakni sebagai anggota Dewan Pembina,” ujarnya.
Selama ini ia mengaku banyak ikut mengurus yayasan-yasasan yang bergerak dalam pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan. “Saya mengurus dua yayasan perguruan tinggi, saya menjadi Pengurus Yayasan Takmir Masjid, saya juga ikut dalam dua yayasan yang dikembangkan oleh keluarga Almarhum Gus Dur. Semuanya untuk pengabdian. Tak ada politiknya,” cetusnya

Ada yang menanyakan juga, mengapa dirinya ikut yayasan yang dipimpin oleh politikus seperti HT? Ia pun balik bertanya, memangnya mengapa kalau dirinya ikut. “Itu kan yayasan, bukan perusahaan dan bukan partai politik. Secara hukum yayasan adalah lembaga amal sosial yang bersifat nirlaba, pengurusnya tidak mendapat gaji .Yayasan ini akan menghimpun dana yang legal secara hukum dan halal secara syar’i. Nanti dananya akan diberikan sebagai bantuan untuk pengembangan pesantren-pesantren yang masih lemah,” tukasnya.

Mahfud menegaskan alas an yang lebih spesifik dirinya bergabung adalah lantaran dirinya lulusan pesantren. Pernah hidup beberapa tahun di pesantren dengan fasilitas yang sangat minim, ustadz-ustadznya tidak dibayar, bahkan terbelakang dalam banyak hal. Padahal pesantren sangat besar perannya untuk membangun bangsa dan negara kita dengan bibit ungggul yang dimilikinya. “Waktu kecil saya dulu digembleng di pesantren-pesantren yang terbelakang seperti itu. Sampai sekarang masih banyak pesantren-pesantren yang seperti itu. Maka itu saya bergabung,” tandasnya. (fix)

31

Ad Banner 728 x 90