Home Serba-serbi Koperasi P dan K Sawangan Punya Aset Rp3,1 Miliar
Koperasi P dan K Sawangan Punya Aset Rp3,1 Miliar

Koperasi P dan K Sawangan Punya Aset Rp3,1 Miliar

132
0

Metro Depok – Keberadaan Koperasi Pegawai Kantor Dinas P dan K Kecamatan Sawangan memberikan arti tersendiri bagi para anggota karena disaat anggota membutuhkan uang koperasi tersebut memberikannya.

Meskipun begitu, para anggota berkomitmen untuk mengembalikan pinjaman tepat waktu. Hal inilah yang membuat koperasi tersebut berdiri kokoh karena dari 400 orang yang menjadi anggota memiliki kepedulian mempertahankan koperasi tersebut dan hingga saat ini asset kekayaan yang dimiliki Rp 3,1 miliar.

“Kami sebagai pengurus bersama anggota berkomitmen mempertahankan koperasi ini. Alhamdulillah sampai sekarang asset kekayaan yang dimiliki Rp 3,1 miliar,” ujar Amirudin selaku Ketua Koperasi P dan K didampingi Burhanudin, Sekretaris dan Syamsudin, Bendahara, kepada Metro Depok saat membuat neraca bulanan, Selasa (24/07).

Pembuatan neraca tersebut dilakukan untuk mengetahui asset dan sisa keuangan. Laporan bulanan ini juga diserahkan kepada setiap anggota, sehingga mereka mengetahui kondisi asset koperasi tersebut.

Koperasi P dan K yang berdiri sejak 14 Nopember 1992 ini juga secar rutin setiap tahunnya melakukan Rapat Anggota Tahunan (RAT) untuk mempertanggungjawabkan keuangan.

“RAT pada tahun 2017 lalu sudah dilakukan diakhir tahun lokasinya di Anyer, Provinsi Banten semua anggota dan pengurus hadir untuk mempertanggungjawabkan keuangan,” tambah Amirudin.

Namun, diakuinya, dalam perjalanan pengelolaan koperasi pasti menemui kendala, karena mayoritas anggota yang merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) saat para anggota meminjam uang koperasi tidak bisa langsung dipotong di Bank Jabar Banten (BJB), berbeda dengan BJB di Kabupaten Bogor, Tangerang Selatan disaat anggota koperasi yang merupakan ASN meminjam uang bisa dipotong.

“Harusnya BJB yang ada di Depok bisa bekerjasama. Bagi para anggota yang meminjam uang koperasi bisa langsung dipotong,” imbuhnya.

Padahal, lanjut dia, jauh sebelumnya pemotongan gaji terhadap anggota yang memiliki pinjaman bisa dilakukan karena gaji diserahkan ke masing-masing unit kerja, namun saat pembayaran gaji ASN melalui BJB sejak 2017, sehingga pengurus koperasi kesulitan untuk memotong pinjaman koperasi bagi anggotanya.

Namun begitu, pengurus memiliki cara dengan memberikan penyadaran kepada para anggota dengan melakuan sosialisasi terkait pengembalian pinjaman, dan menghadirkan penceramah agama, sehingga para anggota koperasi menyadari setiap hutang harus dibayar.

“Anggota koperasi yang memiliki pinjaman tersebut dengan rasa peduli membayar pinjamannya sesuai ketentuan setiap bulannya. Hal inilah yang menjadikan koperasi ini mampu bertahan,” tambah Burhanudin.

Dikatakan lebih lanjut, jika pengurus dan anggota tidak memiliki komitmen untuk menghidupi koperasi, maka jangan harap koperasi tersebut akan tumbuh. Sebaliknya dengan kesadaran anggotanya, koperasi ini mampu berdiri kuat sehingga memiliki aset cukup besar nilainya. (Dib/MD/JPG)

132