Home Dibaleka Maju di Pilkada, Hardiono Tak Mau Gegabah
Maju di Pilkada, Hardiono Tak Mau Gegabah

Maju di Pilkada, Hardiono Tak Mau Gegabah

7
0

Depok – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Depok, Hardiono yang menyatakan dirinya siap maju menjadi Bakal Calon (Balon) Wali Kota Depok. Berbekal dukungan dari berbagai pihak, Hardiono menyatakan siap jika nantinya ada partai politik yang bersedia menjadi kendaraannya menuju kursi Wali Kota Depok.

Hardiono mengatakan, saat ini sudah banyak partai yang bersedia mendukung dirinya untuk ikut dalam pesta demokrasi warga Depok pada September 2020.

Namun, dirinya memiliki keterbatasan, dan itu ada dalam jabatan yang saat ini diemban, yaitu Aparatur Sipil Negara (ASN). Hardiono saat ini menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kota Depok, dan baru akan pensiun pada Januari 2021.

“Kalau bicara partai, saat ini sudah banyak yang mau mendukung saya untuk maju. Tapi kan saya masih memiliki keterbatasan, jadi saya tidak mau gegabah lah,” kata Hardiono Jumat, (14/2/2020).

Hardiono juga mengaku tidak akan gegabah jika memang hingga waktunya tidak ada partai yang mendukungnya. Dia tegaskan tidak akan maju sebagai lewat jalur independen.

Lebih lanjut, Hardiono mengatakan niatnya maju sebagai Calon Wali Kota Depok adalah panggilan hati, untuk perbaikan masyarakat Kota Depok. “Seperti niat ibadah saja lah,” katanya.

Orang nomor tiga di Kota depok itu juga mengatakan tidak berkenan jika kabar dirinya maju pada kontestasi pilkada disebut sebagai kuda hitam.

Ditanya tentang siapa sosok yang akan mendampinginya, Hardiono menegaskan kriterianya harus yang bisa bekerja dan bekerjasama.

“Saya sebutkan cirinya saja ya, yang bisa kerja sama. Kalau namanya sudah muncul, nanti baru saya istikhoroh,” pungkasnya.

Sementara itu, geliat politik di Kota Depok semakin menghangat, seiring dengan pergerakan dari tokoh masyarakat maupun pejabat publik yang mulai bermanuver pada Pilkada 2020. Meskipun waktu pendaftaran bakal calon (balon) kepala daerah baru dibuka pada 16-18 Juni 2020.

Mereka berspekulasi, sambil memikirkan langkah strategi untuk menghadapi pesta demokrasi tersebut. Mulai dari jalur kepartaian, maupun individu.

Seperti diketahui, berbagai koalisi partai politik dibentuk sebagai lambang kekuatan mulai dari Koalisi Depok Bangkit (KDB), diketuai dua partai besar yang ada, Gerindra dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Keberadaan KDB bertujuan meruntuhkan kekuasaan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Kota Depok.

Namun karena belum menentukan langkah, KDB yang juga diikuti beberapa partai bessr seperti PPP dan Demokrat akhirnya cerai-berai ditengah jalan dan hanya menyisakan dua partai besarnya.

Sementara itu partai lain juga ikut membuat poros koalisi yaitu Partai Gerindra-PDIP. Keduanya sepakat berkoalisi melalui penandatanganan yang dilakukan di Kawasan Tanah Baru, Kecamatan Beji beberapa pekan silam.

Koalisi tersebut sepakat mengusung kader Gerindra, Pradi Supriatna sebagai Calon Wali Kota Depok, sedang PDIP menyodorkan wakilnya yang hingga saat ini masih dalam proses pemilihan (untuk diajukan menjadi Wakil Wali Kota).

Namun kondisi koalisi tersebut dipatahkan oleh pernyataan dari salah satu kader Gerindra yaitu Yeti Wulandari, yang menyebutkan koalisi itu belum mendapat persetujuan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP).

Hal tersebut juga selaras dengan dilakukannya deklarasi koalisi empat partai yang santer dengan nama ‘tertata’. Tertata adalah visi dan misi yang disepakati koalisi empat parpol, yaitu tertib, taat dan takwa.

Kemudian pergerakan politik juga, terlihat dari kabar pencalonan beberapa individu untuk ikut dalam kontestasi pilkada Depok. Beberapa dikabarkan siap mencalonkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). (

7