Home Opini Rawan Maut di Jalan Jenuh
Rawan Maut di Jalan Jenuh

Rawan Maut di Jalan Jenuh

16
0

 

Metro Depok – Belum lama berselang setelah kecelakaan beruntun belasan kendaraan yang diseruduk bus wisata disebabkan rem blong menyebabkan banyak korban jiwa dan luka berjatuhan. Peristiwa itu terjadi di Jalan Raya Puncak persisnya di tanjakan Selarong, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor pada 22 April 2017.

Pada 30 April 2017 kecelakaan yang tak kalah mengerikan kembali terjadi kali ini di Jalan Raya Puncak di Desa Ciloto, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Bus Kitrans mengalami rem blong menggasak beberapa mobil dan motor hingga masuk jurang. Belasan korban jiwa meninggal dunia dan puluhan orang luka ringan dan luka berat.

Keduanya terjadi saat kondisi arus lalu lintas sedang berlaku satu arah. Peristiwa pertama dengan yang kedua berjarak tidak terlalu jauh baik tempat dan waktunya. Kecelakaan memang tidak hanya terjadi di puncak. Ia bisa terjadi di daerah lain, di dataran lebih rendah atau di medan dan kondisi apa pun meskipun dengan puncak stres dan kompleksitas yang tidak jauh berbeda. Mengapa berulang terjadi, karena faktor kelalaian, keteledoran atau takdir.

Introspeksi

Kematian Ayrton Senna, pembalap F1 pada 1 Mei 1994 disebabkan kecelakaan di Sirkuit San Marino, masih menjadi bayang-bayang Adrian Newey, mantan teknisi tim balap mobil F1. Sebelum dapat disebut sebagai takdir, kecelakaan itu dibaca secara profesional dengan kehati-hatian, mulai dari tuas stir, modifikasinya, soal keamanan sirkuit hingga alasan terjebak dalam kemudi yang tak berfungsi baik.

Mungkin terlalu jauh menghubungkan kecelakaan maut di puncak dengan kematian pembalap F1 tersebut, tetapi setidaknya dalam upaya membangun kesadaran dan sikap kehati-hatian dapat terbangun langkah yang lebih bertanggung jawab dan tidak sembrono. Sehingga tidak setiap kecelakaan dapat dengan mudah disebut takdir, tetapi terlebih dulu dicari berbagai penyebabnya, kenapa bisa terjadi berulang kali dalam waktu dan jarak yang lumayan dekat.

Pertama, bagaimana supir memperlakukan transportasi umum seperti bis wisata atau kendaraan umum, sudahkah rasa tanggung jawab benar-benar telah dilaksanakan seperti merasa sebagai pemilik kendaraan itu sendiri. Artinya lebih berhati-hati dan tidak abai. Kendaraan mesti dibersihkan, dirawat dengan baik dan dicek berkala tiap 5.000-10.000 km: ban, rem piston, minyak rem dan mesinnya. Kedua, menyetir dengan hati-hati, tidak mengantuk, tidak mabuk dan tidak ugal-ugalan. Ketiga, perlu memahami faktor psikologis jalan raya dan penggunanya yang dapat berubah setiap saat.

Ini sebuah momentum untuk introspeksi. Mulai dari hal sepele, seperti kewajiban memakai helm bagi pengguna motor. Bagaimana tafsir pihak kepolisian terhadap pengguna helm dan sebagian pengendara yang kerap tak mau berhelm untuk alasan tertentu seringkali malah dibiarkan. Masyarakat pasti bisa kasih bukti dengan fasih.

Kemudian, lampu kendaraan yang diubah dan dimodifikasi, plat nomer kendaraan yang dibikin atraktif dan kreatif. Plat merah kendaraan kantor yang ditutup plastik gelap dengan alasan keamanan dan kenyamanan. Belum lagi beberapa kendaraan yang mendapat keistimewaan untuk “melanggar” lampu merah. Memang ada yang dibolehkan sesuai prosedur, tetapi kadang ada yang melanggar karena sudah menjadi raja jalanan. Masalah terlanjur rumit, jalan jadi jenuh.

Jalan Jenuh

Mengurai masalah jalan raya seperti menegakkan benang basah dan kusut. Kecelakaan jadi identik dengan jalan raya. Murahnya nyawa di negeri horor. Lihatlah anak-anak sekolah pergi dan pulang melintasi jalan raya yang dilewati oleh kendaraan-kendaraan besar, bis truk, mobil pribadi, angkutan umum. Belum lagi aturan yang tidak tegas terhadap pengendara motor yang tak menyalakan lampu terutama di malam hari, geng motor, para pengguna jalan raya yang belum saatnya dibolehkan berkendara, para pelanggar rambu-rambu yang mentradisikan pelanggarannya dengan gagah dan tak tahu malu.

Karena sering terjadi, jika lebih dari sekali kejadian dan bahkan telah merenggut nyawa orang-orang tak berdosa, maka kita tidak bisa main-main dengan jamak takdir. Semuanya dimaklumi sebagai sudah takdirnya. Bagi Louis Dupre dalam karyanya Religious Mystery and Rational Reflection (1998), ini seperti misteri ilahi dalam teodisi yang dapat diperdebatkan. Setiap kejadian dapat dikategorikan sebagai takdir, karena Tuhan terlibat dalam setiap peristiwa. Untuk konteks kecelakaan maut tersebut, seharusnya takdir dipuncaki pasca investigasi dan introspeksi total.

Mari membaca jalan raya. Kendaraan setiap hari, minggu dan bulan selalu bertambah. Setiap produsen kendaraan menampilkan dengan bangga angka penjualan yang terus meroket, pendapatan meningkat dan mendorong antusiasme pasar makin positif menunggu model teranyar beberapa tahun berikutnya. Banjir jempol dan like dari para pengguna, peminat dan pihak-pihak yang berkepentingan berkebutan dengan target penjualan.

Jalan menjadi jenuh membiarkan anak-anak bangsa ini sepertinya bebas menggunakan kendaraan mereka ke mana saja mereka mau. Padahal jalan jenuh tak lagi ramah lingkungan, tak ramah anak, tak ramah lagi bagi pejalan kaki dan pengguna jalan itu sendiri. Bagaimana cara mengurai jalan jenuh dan manusia-manusia yang telah kehilangan kesadaran historisnya. Setiap pengendara berpotensi cepat naik darah, mudah marah, melotot di jalanan. Serangan klakson dan ngegas yang memekakkan telinga. Salah paham sedikit karena salah mengambil keputusan di jalan jadi masalah besar.

Selain itu, sebagai sumber daya alam yang tak dapat diperbarui BBM jelas akan terus berkurang, sedangkan jumlah kendaran makin bertambah. Jika volume kendaraan bertambah secara signifikan, maka mau dibuat berlipat lajur dan bertingkat fly over tidak akan menyelesaikan dan mengurai kemacetan sampai kapan pun. Karena laju produksi akan berjalan lebih cepat daripada rekayasa lalu lintas dan pengembangan jalan raya.

Masyarakat berlomba-lomba membeli kendaraan untuk berbagai alasan kenyamanan, kebutuhan bahkan gengsi. Jika negara tidak melakukan pembatasan produksi kendaraan dan memodernisasi transportasi umum lebih layak, maka jalan praktis jenuh. Kecelakaan tak terhindarkan. Polisi makin sibuk merekayasa lalu lintas.

Lalu lintas jalan raya sesungguhnya melahirkan ketegangan psikologis, emosional, dan stress bercampur aduk secara spontan dan kadang di luar kesadaran dihimpit suasana terik, bising dan kemacetan. Lambat laun, para pengguna jalan sebagai representasi anak-anak bangsa ini merenggangkan keramahannya karena beban berat jalan jenuh. Sadar berbenah demi masa depan bangsa yang lebih baik sebelum dipuncaki takdir.

Dr. H. Robby Habiba Abror, S.Ag, M.Hum.

Dosen Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

16

Ad Banner 728 x 90