Home Pendidikan Siswa ABK Raih Pendidikan Tanpa Diskriminasi di SDIT Taman Ilmu
Siswa ABK Raih Pendidikan Tanpa Diskriminasi di SDIT Taman Ilmu

Siswa ABK Raih Pendidikan Tanpa Diskriminasi di SDIT Taman Ilmu

5
0

Metro Depok – Siswa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di SDIT Taman Ilmu yang berlokasi di Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, tetap meraih pendidikan sama dengan siswa lainnya tanpa diskriminasi.

Penerimaan siswa ABK di sekolahnya ini bermula dari rasa prihatin terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK). Sejak tahun 2009 SDIT Taman Ilmu menerima anak-anak tersebut.

Kepala SDIT Taman Ilmu, Yuliana Susanti kepada wartawan mengatakan di sekolah ini mereka diajarkan berbaur dengan anak lainnya yang sebaya dengan mereka. “Di sekolah kami ini tidak ada perbedaan perlakuan diantara mereka disini sehingga ABK bisa merasa nyaman berada di lingkungan di luar keluarga,” katanya.

Yuliana Susanti mengatakan, keberadaan ABK di sekolahnya justru memberi warna tersendiri. Di lingkungan sekolah anak-anak normal belajar untuk menghargai anak yang berkebutuhan khusus, dan tidak saling mengejek atau mencela.

“Jadi mereka (ABK) tidak kita jauhi. Kita beri pengertian pada anak umum mengenai kondisi ABK dan bagaimana kita harus menghargai ABK,” katanya.

Dilihat dari segi pembelajaran hampir tidak ada perbedaan dengan anak umum. Hanya saja untuk pengembangannya, memang ada metode tambahan bagi ABK.

“Biasanya ini akan melibatkan orang tua mengenai apa yang akan dicapai oleh ABK nantinya. Contohnya, targetnya adalah agar ABK bisa mandiri, RPP kita sesuaikan untuk mereka,” tuturnya.

Tiap ABK itu kemampuannya juga berbeda dan ini harus disesuaikan.Hal lainnya adalah belajar bersama ABK juga mengasah kepekaan anak-anak. Mereka belajar untuk membantu ABK dalam lingkungan yang sama dan memiliki keterikatan satu sama lain.

“Melalui konsep yang diterapkan di sekolah ini, diharapkan ketika di luar sekolah mereka menemukan ada ABK, mereka sudah terbiasa menghadapinya,” tuturnya.

Bahkan mereka bisa menolong ABK lainnya. ini cerita yang kami dapatkan dari alumni disini yang sudah melanjutkan ke jenjang lanjutkan. Bahwa siswa ABK bukan untuk dijauhi atau dihindari. Mereka harus sama-sama dirangkul dalam rangka membangkitkan rasa percaya dirinya.

Jika kemampuannya diasah, tidak menutup kemungkinan ABK ini bisa berprestasi seperti anak umumnya. Mereka butuh bersosial. Jadi adalah hal yang salah kalau mereka dijauhi apalagi sampai dibully.

“Disini kami mengajarkan pada anak umum agar bisa menghargai ABK dan membentuk empati dan simpati anak umum terhadap ABK. Ini bagian dari pembentukan moral dan karakter juga,” katanya.

Di SDIT Taman Ilmu tidak menggunakan shadow teacher untuk mengajar ABK. Guru-guru disini sudah terbiasa menghadapi ABK dengan beragam latar belakang. Dikarenakan di sini tidak semua ekonominya menengah keatas sehingga jika harus dihadirkan shadow teacher maka akan menambah biaya.

“Alasan lain karena ABK ini ingin seperti anak ABK ini ingin seperti anak umumnya,” pungkasnya.

Kalau ada shadow teacher seolah mereka ini dibedakan. Dan guru-guru di sini sudah terbiasa menangani ABK. Siswa di SDIT Taman sering meraih prestasi. Artinya walaupun ada kelas inklusi, disini anak-anak terbukti tetap bisa meraih segudang prestasi. Antara lain lomba mendongeng, lomba kreativitas dan segudang ajang lainnya yang diikuti oleh anak-anak SDIT Taman Ilmu.

“Untuk bisa tampil saja sudah prestasi bagi kami guru yang mengajar mereka. Kami tidak hanya mengejar akademik semata tetapi pengembangan potensi anak,” katanya.

Bahkan ada ABK yang pernah menjuarai kejuaraan Taekwondo baik di tingkat daerah maupun di tingkat Nasional. Baru-baru ini salah satu ABK juga menjuarai kejuaraaan futsal tingkat Kota Depok.

“Walaupun baru berhasil meraih juara 3 ,kami selaku guru bangga karena futsal kan butuh kerja tim. Berarti ABK kami dan anak lainnya sudah paham bagaimana harus membangun kerjasama dalam sebuah tim tanpa memandang perbedaan,” katanya. (Aji/MD/JPG)

5

Ad Banner 728 x 90